Jagalah Ucapanmu Wahai Ibu, Jangan Sampai Hal Ini Menimpa Anakmu

Ini merupakan suatu kisah nyata yang penuh akan hikmah, terkait dengan ucapan seorang ibu kepada anaknya. Kisah yang aslinya berbahasa Arah ini sudah viral ke mana-mana. Berikut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan terjemahan bebas.

Bismillah, kutuliskan kisah ini dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.

Suatu hari ketika saya sedang sibuk membersihkan rumah, tiba-tiba anak laki-laki saya datang. Ia masih kecil kala itu, tak sengaja ia menjatuhkan sebuah hiasan yang terbuat dari kaca dan pecah.

Karena kondisiku yang kelelahan dan melihatnya berulah, akupun memarahinya. Karena hiasan itu sangat mahal harganya. Hadiah istimewa dari ibu yang sangat aku jaga dengan baik.

Karena saking marahnya, akhirnya aku kehilangan kontrol dan keceplosan melontarkan kata-kata. “Semoga kamu tertimpa dinding bangunan dan tulang belulangmu hancur berantakan”

Setelah beberapa tahun berlalu, saya lupa akan kata-kata (Do’a) yang pernah aku lontarkan padanya, dan akupun tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang penting dan saya tidak tahu kalau doa tersebut sudah sampai kepada Sang Pencipta.

Anak lelakiku kini sudah beranjak dewasa, begitu juga dengan saudara-saudaranya. Rasanya dialah yang paling aku sayangi dibandingkan dengan yang lain. Dialah yang selalu aku khawatirkan, ia pula yang selalu berbakti kepadaku.

Kini dia sudah tamat dari perguruan tinggi, sudah bekerja dan saya pun berpikir bahwa sudah waktunya untuk aku nikahkan. Kemudian aku pun beusaha untuk mencarikannya pasangan hidup. Dan Alhamdulillah diperolehlah pasangan hidup untuknya.

Singkat cerita, mertuanya memiliki sebuag gedung tua yang akan direnovasi. Maka pergilah anakku bersaama ayah mertuanya ke gedung tersebut. Setibanya di sana para pekerja sudah siap untuk melakukan renovasi.

Di tengah aktivitas renovasi yang sedang berlangsung, anakku pergi agak menjauh dari yang lain. Para pekerja tidak tahu bahwa anak saya ada di antara gedung yang akan di renovasi. Maka dirobohkanlah gedung itu dan menimpa anakku.

Anakku menjerit hingga suaranya tak terdengar lagi, semua pekerja berhenti, mereka ketakutan dan gemetar melihat kejadian tersebut. Kemudian mereka mulai menyingkirkan puing-puing yang menimpa anakku itu dengan susah payah dan segeralah dipanggilkan ambulans.

Tapi, mereka sudah tidak bisa mengangkat badan anakku, ia remuk, ia hancur seperti kaca yang jatuh berkeping-keping.

Dengan sangat kesulitan mereka memindahkannya untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Ketika ayah mertuanya menghubungiku dan mengabarkan apa yang terjadi, seketika itu juga seakan Allah menghadirkan kembali apa yang pernah aku ucapkan kepadanya dulu ketika masih kecil.

Saya pun menangis hingga jatuh pingsan. Ketika tersadar, saya sudah berada di rumah sakit, saya pun meminta agar bisa melihat anak saya. Ketika melihatnya, tubuhku pun lemas, Ya Rabb.. Andaikan saya tidak melihatnya dalam keadaan seperti itu, ketika melihatnya, seakan-akan Allah berkata padaku. “Ini doamu kan? Kini sudah Aku kabulkan.

Seketika itu juga, seakan jantung saya berhenti berdetak, anak lelakiku telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisi yang remuk, pecah berkeping-keping. Sembari menangis dan berteriak saya berkata.

“Andaikan ia bisa hidup lagi, tidaklah apa jika ia hancurkan seluruh perabot rumah. Asalkan saya tidak kehilangan dia”

Andaikan lidah saya ini terpotong dan tidak mendoakan yang sedemikian..andaikan ruhkupun turut bersamamu nak,,hingga saya bisa beristirahat dari kepedihan yang saya rasakan sepeninggalmu….. andaikan… andaikan dan banyak andaikan yang sudah tiada berguna.

Pesan untuk semua yang bergelar ibu: Jangan terburu-buru mendoakan anakmu ketika sedang marah.

Berlindunglah kepada Allah dari godaan setan,… Jika kamu ingin memukulnya, pukul saja, tapi jangan mendoakannya macam-macam, sehingga kalian akan menyesal seperti saya.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Comments

comments

Tags:, , ,